Pages

Jumat, 25 April 2014

BRONKITIS



A.    DEFINISI

Bronkitis merupakan proses keradangan pada bronkus dengan manifestasi utama berupa batuk, yang dapat berlangsung secara akut maupun kronis. Proses ini dapat disebabkan karena perluasan dari proses penyakit yang terjadi dari saluran napas maupun bawah.Berdasarkan waktu berlangsungnya penyakit, bronkitis akut berlangsung kurang dari 6 minggu dengan rata-rata 10-14 hari, sedangkan bronkitis kronis berlangsung lebih dari 6 minggu.
Secara umum keluhan pada bronkitis kronis dan bronkitis akut hampirsama, hanya saja keluhan pada bronkitis kronis cenderung lebih berat dan lebih lama. Hal ini dikarenakan pada bronkitis kronis terjadi hipertrofi otot-otot polos dan kelenjar serta berbagai perubahan pada saluran pernapasan. Secara klinis, bronkitis kronis merupakanpenyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk berdahak sedikitnya 3 bulandalam setahun selama 2 tahun berturut-turut.

B.    EPIDEMIOLOGI

Di Indonesia, belum ada angka morbiditas bronkitis kronis, kecuali di rumah sakit sentra pendidikan. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat ( National Center for HealthStatistics ) diperkirakan sekitar 4% dari populasinya didiagnosa bronkitis kronis. Angka ini pun diduga masih di bawah angka morbiditas yang sebenarnya karena bronkitis kronis yang tidak terdiagnosis. Bronkitis akut merupakan kejadian yang paling umum dalam pengobatan rawat jalan, berkontribusi terhadap sekitar 2,5 juta kunjungan ke dokter di ASpada 1998. Di Amerika Serikat, biaya pengobatan untuk bronkitis akut sangat besar untuk setiap episode, pasien menerima rata-rata dua resep untuk digunakan 2-3 hari.
Bronkitis kronis dapat dialami oleh semua ras tanpa ada perbedaan. Frekuensiangka morbiditas bronkitis kronis lebih kerap terjadi pada pria dibanding wanita. Hanyasaja hingga kini belum ada angka perbandingan yang pasti. Usia penderita bronkitiskronis lebih sering dijumpai di atas 50 tahun.

C.    ETIOLOGI

Secara umum penyebab bronkitis dapat dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi polusiudara, merokok dan infeksi. Infeksi sendiri terbagi menjadi infeksi bakteri ( Staphylococcus, Pertusis, Tuberculosis,  mikoplasma), infeksi virus (RSV, Parainfluenza,Influenza, Adeno) dan infeksi fungi (monilia). Faktor polusi udara meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya bronkitis. Sedangkan faktor penderitameliputi usia, jenis kelamin, kondisi alergi dan riwayat penyakit paru yang sudah ada.
Berdasarkan penyebabnya bronkitis dibagi menjadi dua yaitu bronkitis infeksi osadan bronkitis iritatif.
1.     Bronkitis infeksiosa
Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, terutama Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:
·       Sinusitis kronis
·       Bronkiektasis
·       Alergi
·       Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak 2.
2.      Bronkitis iritatif
Bronkitis iritatif adalah bronkitis yang disebabkan alergi terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah bronkus. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik klorin,hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromine, polusi udara yang menyebabkan iritasiozon dan nitrogen dioksida, tembakau dan rokok lainnya. Faktor etiologi utamaadalah zat polutan.

D.    MEKANISME

Dua faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Bronkitis kronik ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar, hipertropi kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. Ditandai juga dengan peningkatan sekresi sel goblet di saluran napas kecil, bronki dan bronkiole, menyebabkan produksi   mukus berlebihan, sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan.

E.     ALUR DIAGNOSIS

a.  Anamnesis : riwayat penyakit yang ditandai tiga gejala klinis utama (batuk, sputum, sesak) dan faktor-faktor penyebabnya.

b.  Pemeriksaan fisik.
·       Bila ada keluhan sesak, akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi.
·       Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat).
·       Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah.
·       Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang.
·       Pada pembesaran jantung kanan, akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah di pinggir sternum.
·       Pada kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian tekanan vena, hepatomegali, refluks hepato jugular dan edema kaki.

 c.  Pemeriksaan penunjang.
1)    Pemeriksaan radiologi.
Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.
2)    Pemeriksaan fungsi paru.
Terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam 1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1 : KVP <70%.
3)    Pemeriksaan gas darah.
Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan eritropoeisis.
4)    Pemeriksaan EKG.
Pemeriksaan ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi atrium dan ventrikel kanan)
5)    Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih.

       F. PENATALAKSANAAN & PENCEGAHAN

            a.    Penyuluhan.
Harus dijelaskan tentang hal-hal mana saja yang dapat memperberat penyakit dan harus dihindari serta bagaimana cara pengobatan yang baik.
b.    Pencegahan.
Mencegah kebiasaan merokok (dihentikan), menghindari lingkungan polusi, dan dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi.

Referensi
Mansjoer, Arif., Triyanti, Kuspuji., dll. Editor. 1999. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI
Djojodibroto, R. Darmanto. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta : EGC
W.Sudoyo, Aru., Setiyohadi, Bambang., dll. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta : Interna Publishing
A.Price, Sylvia., M.Wilson Lorraine. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6 volume 2. Jakarta : EGC

0 komentar:

Posting Komentar


Jumat, 25 April 2014

BRONKITIS



A.    DEFINISI

Bronkitis merupakan proses keradangan pada bronkus dengan manifestasi utama berupa batuk, yang dapat berlangsung secara akut maupun kronis. Proses ini dapat disebabkan karena perluasan dari proses penyakit yang terjadi dari saluran napas maupun bawah.Berdasarkan waktu berlangsungnya penyakit, bronkitis akut berlangsung kurang dari 6 minggu dengan rata-rata 10-14 hari, sedangkan bronkitis kronis berlangsung lebih dari 6 minggu.
Secara umum keluhan pada bronkitis kronis dan bronkitis akut hampirsama, hanya saja keluhan pada bronkitis kronis cenderung lebih berat dan lebih lama. Hal ini dikarenakan pada bronkitis kronis terjadi hipertrofi otot-otot polos dan kelenjar serta berbagai perubahan pada saluran pernapasan. Secara klinis, bronkitis kronis merupakanpenyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk berdahak sedikitnya 3 bulandalam setahun selama 2 tahun berturut-turut.

B.    EPIDEMIOLOGI

Di Indonesia, belum ada angka morbiditas bronkitis kronis, kecuali di rumah sakit sentra pendidikan. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat ( National Center for HealthStatistics ) diperkirakan sekitar 4% dari populasinya didiagnosa bronkitis kronis. Angka ini pun diduga masih di bawah angka morbiditas yang sebenarnya karena bronkitis kronis yang tidak terdiagnosis. Bronkitis akut merupakan kejadian yang paling umum dalam pengobatan rawat jalan, berkontribusi terhadap sekitar 2,5 juta kunjungan ke dokter di ASpada 1998. Di Amerika Serikat, biaya pengobatan untuk bronkitis akut sangat besar untuk setiap episode, pasien menerima rata-rata dua resep untuk digunakan 2-3 hari.
Bronkitis kronis dapat dialami oleh semua ras tanpa ada perbedaan. Frekuensiangka morbiditas bronkitis kronis lebih kerap terjadi pada pria dibanding wanita. Hanyasaja hingga kini belum ada angka perbandingan yang pasti. Usia penderita bronkitiskronis lebih sering dijumpai di atas 50 tahun.

C.    ETIOLOGI

Secara umum penyebab bronkitis dapat dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi polusiudara, merokok dan infeksi. Infeksi sendiri terbagi menjadi infeksi bakteri ( Staphylococcus, Pertusis, Tuberculosis,  mikoplasma), infeksi virus (RSV, Parainfluenza,Influenza, Adeno) dan infeksi fungi (monilia). Faktor polusi udara meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya bronkitis. Sedangkan faktor penderitameliputi usia, jenis kelamin, kondisi alergi dan riwayat penyakit paru yang sudah ada.
Berdasarkan penyebabnya bronkitis dibagi menjadi dua yaitu bronkitis infeksi osadan bronkitis iritatif.
1.     Bronkitis infeksiosa
Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, terutama Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:
·       Sinusitis kronis
·       Bronkiektasis
·       Alergi
·       Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak 2.
2.      Bronkitis iritatif
Bronkitis iritatif adalah bronkitis yang disebabkan alergi terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah bronkus. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik klorin,hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromine, polusi udara yang menyebabkan iritasiozon dan nitrogen dioksida, tembakau dan rokok lainnya. Faktor etiologi utamaadalah zat polutan.

D.    MEKANISME

Dua faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Bronkitis kronik ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar, hipertropi kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. Ditandai juga dengan peningkatan sekresi sel goblet di saluran napas kecil, bronki dan bronkiole, menyebabkan produksi   mukus berlebihan, sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan.

E.     ALUR DIAGNOSIS

a.  Anamnesis : riwayat penyakit yang ditandai tiga gejala klinis utama (batuk, sputum, sesak) dan faktor-faktor penyebabnya.

b.  Pemeriksaan fisik.
·       Bila ada keluhan sesak, akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi.
·       Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat).
·       Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah.
·       Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang.
·       Pada pembesaran jantung kanan, akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah di pinggir sternum.
·       Pada kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian tekanan vena, hepatomegali, refluks hepato jugular dan edema kaki.

 c.  Pemeriksaan penunjang.
1)    Pemeriksaan radiologi.
Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.
2)    Pemeriksaan fungsi paru.
Terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam 1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1 : KVP <70%.
3)    Pemeriksaan gas darah.
Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan eritropoeisis.
4)    Pemeriksaan EKG.
Pemeriksaan ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi atrium dan ventrikel kanan)
5)    Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih.

       F. PENATALAKSANAAN & PENCEGAHAN

            a.    Penyuluhan.
Harus dijelaskan tentang hal-hal mana saja yang dapat memperberat penyakit dan harus dihindari serta bagaimana cara pengobatan yang baik.
b.    Pencegahan.
Mencegah kebiasaan merokok (dihentikan), menghindari lingkungan polusi, dan dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi.

Referensi
Mansjoer, Arif., Triyanti, Kuspuji., dll. Editor. 1999. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI
Djojodibroto, R. Darmanto. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta : EGC
W.Sudoyo, Aru., Setiyohadi, Bambang., dll. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta : Interna Publishing
A.Price, Sylvia., M.Wilson Lorraine. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6 volume 2. Jakarta : EGC

0 komentar:

Posting Komentar